Berikut Ini Penjelasan Menurut Ilmuwan, Mengenai Kebiasaan Menggemertakan Gigi Saat Tidur

Jakarta - Banyak orang memiliki kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur Hal itu tentunya sangatlah menganggu bagi orang lain yang mendengar karena suaranya cukup berisik. Misteri tubuh manusia kali ini akan membahas mengenai penyebab kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur.

Menggemeretakkan gigi dalam dunia medis biasa disebut dengan bruxism. Bruxism adalah suatu kondisi di mana seseorang kerap menggertakkan gigi secara tidak sadar, baik saat terjaga (conscious bruxism) maupun saat sedang tidur (sleep bruxism).

Orang yang sering mengatupkan atau menggemeretakkan gigi (brux) saat tidur lebih berisiko mengalami gangguan tidur seperti mendengkur, hingga sleep apnea (berhenti bernapas beberapa kali selama 10 detik saat tidur).

Pada kondisi bruxism ringan mungkin tidak diperlukan pengobatan. Namun, bruxism bisa sering terjadi, dan cukup parah hingga menyebabkan gangguan di rahang, sakit kepala, gigi rusak, serta masalah kesehatan lainnya.

Penyebab menggemeretakkan gigi saat tidur

Dilansir dari Mayo Facility, penyebab kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur mungkin disebabkan oleh faktor fisik, psikologis, dan genetik. Kondisi conscious bruxism mungkin disebabkan oleh emosi seperti kecemasan, stres, perasaan marah, frustrasi, atau rasa tegang.

Atau mungkin bisa disebabkan strategi coping, maupun kebiasaan yang dilakukan selama konsentrasi penuh. Sedangkan rest bruxism mungkin disebabkan aktivitas mengunyah selama tidur.

Gejala bruxism

Gejala atau tanda-tanda bruxism yang mungkin Anda alami di antaranya:

-Menggertakkan gigi cukup keras yang menganggu

-Kondisi gigi yang rata, retak, terkelupas atau kendur

-Enamel gigi yang aus sehingga memperlihatkan lapisan gigi yang lebih dalam

 -Meningkatnya rasa sakit atau sensitivitas gigi

- Otot rahang yang lelah atau kencang, maupun rahang terkunci dan tidak dapat membuka atau menutup sepenuhnya

-sakit atau pegal pada rahang, leher atau wajah

-Sakit yang terasa seperti sakit telinga

-Sakit kepala yang berasal dari pelipis

- Kerusakan karena mengunyah melalui bagian dalam pipi

- Gangguan tidur

Faktor risiko bruxism

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya bruxism, yaitu:

- Stres

Rasa cemas atau stres yang meningkat dapat menjadi penyebab seseorang menggertakkan gigi. Begitu pula dengan rasa marah, dan frustrasi.

- Usia

Bruxism sering dialami anak-anak, tetapi biasanya akan hilang saat dewasa.

- Sifat agresif, kompetitif, dan hiperaktif

Seseorang yang memiliki tipe kepribadian agresif, kompetitif, atau hiperaktif dapat meningkatkan risiko bruxism.

- Obat-obatan

Bruxism mungkin berkaitan dengan efek samping yang tidak umum dari beberapa obat seperti antidepresan tertentu.

- Rokok, alkohol, dan kafein

Merokok, minum minuman beralkohol, maupun berkafein dapat meningkatkan risiko bruxism.

- Keturunan

Rest bruxism atau menggemeretakkan gigi saat tidur cenderung terjadi dalam keluarga. Jika Anda menderita bruxism, anggota keluarga lain mungkin juga memilikinya.

- Gangguan penyakit lain

Bruxism dikaitkan dengan beberapa kesehatan psychological serta gangguan medis, seperti penyakit parkinson, demensia, gastroesophageal reflux disorder (GERD), epilepsi, sleep apnea, hingga attention-deficit/hyperactivity condition (ADHD).

Dalam kebanyakan kasus, bruxism tidak menyebabkan komplikasi serius. Tetapi pada bruxism parah dapat menyebabkan kerusakan pada gigi, restorasi, sakit rahang, sakit kepala, nyeri wajah, hingga gangguan pada sendi atau temporomandibular (TMJs) yang terletak di dekat telinga dan akan terdengar bunyi 'klik' saat Anda membuka maupun menutup mulut.

Perlu diperhatikan jika Anda memiliki gejala atau tanda-tanda yang sudah disebutkan sebelumnya, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter agar dapat dilakukan tindakan lebih lanjut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asteroid Rp 68 Triliun Sebesar Lapangan Bola Akan Mendekati Bumi, Kenapa Mahal ?

NASA Peringatkan Astreoid Sebesar Lapangan Bola Akan Masuki Orbit Bumi, Berpotensi Bahaya

Apakah Temper Tantrum Itu? Bagaimana Cara Mengatasinya Pada Anak? Berikut Penjelasan Dari Ahli